Judul : Sosok Ahok Sejatinya Paling Menohok sebagai Cawapres Jokowi
link : Sosok Ahok Sejatinya Paling Menohok sebagai Cawapres Jokowi
Sosok Ahok Sejatinya Paling Menohok sebagai Cawapres Jokowi
Dampak jualan ayat dan mayat benar-benar membuat demokrasi tersayat. Pasalnya ketika proses demokrasi ditunggangi para penjual ayat dan mayat sejatinya demokrasi tengah kehilangan akal sehat. Akibatnya banyak orang mabok agama hingga neraka dipaksa mengikuti selera politik.
Kisah Pilkada DKI Jakarta 2017 jelas-jelas mempertontonkan bagaimana demokrasi akal sehat dibuat kandas. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang bercahaya dalam kinerja dibuat tak berdaya lewat isu penistaan agama. Sebuah isu yang menjadi mainan politisi dan konsultan politik yang paham dengan kemunduran akal sehat ketika dicekoki aroma mabok agama.
Maklum, banyak politisi dan para pemabok agama yang dibuat gerah oleh Ahok. Transparansi birokrasi dan perbaikan kualitas pelayanan publik di DKI Jakarta telah membuat banyak orang cenut-cenut. Segala upaya busuk pun dipakai untuk menjegal Ahok hingga isu penistaan agama dipakai oleh tujuh juta orang secara terstruktur, sistematis dan masif.
Boleh saja orang menjadi pesimis dengan lanjutan kiprah politik Ahok. Namun bagi saya, Ahok tetap sosok yang paling menohok untuk mendampingi Jokowi sebagai Cawapres 2019. Silakan saja orang tidak setuju hingga membuat lagu mendayu-dayu. Bagi saya saat ini hanya kemampuan Ahok yang cukup memberi jaminan pada keberlangsungan program Jokowi. Silahkan saja berpendapat kalau Gatot Nurmantyo, Cak Imin, Anies Baswedan, hingga Prabowo Subianto yang paling pantas menjadi pendamping Jokowi 2019. Saya tetap berpandangan kalau Ahoklah yang paling cocok dan paling menohok.
Seperti diketahui, duet Jokowi-Ahok pernah menggebrak Jakarta pada Pilkada Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 2012. Kerja nyata mereka segera mengubah wajah Ibu Kota Republik Indonesia, Jakarta. Predikat kota kumuh perlahan namun pasti menjadi lebih tertata dan rapi.
Tak kalah hebat adalah birokrasi dan pelayanan publik. Bila semula mengurus kartu-kartu kependudukan sulit dan rumit kalau tanpa uang pelicin, berkat kebijakan Jokowi-Ahok kemudian mendapatkan kelancaran. Menata birokrasi ternyata menjadi keahlian seorang Ahok.
Para aparatur sipil negara yang tak becus kerja pun banyak yang dipecat. Birokrasi yang bersih dan melayani benar-benar digenjot Basuki. Kegalakan Basuki Tjahaja Purnama telah menyemangati Jokowi untuk mengubah Jakarta menjadi kota yang tidak salah kelola.
Ketika Jokowi jadi Presiden, praktis Basuki Tjahaja Purnama menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dan, ketika jadi Gubernur, Ahok ternyata makin bercahaya bagaikan terang purnama pada malam hari buta. Gubernur tandingan yang dideklarasikan oleh ormas titik-titik pun tak mampu menghalangi kecemerlangan Tjahaja Purnama.
Dengan ditemani Djarot Saeful Hidayat, kota Jakarta terus berbenah hingga angka kepuasan warga mencapai 70% lebih. Tidak heran karena keseriusan Ahok-Djarot dalam melayani warga memang luar biasa. Tanpa sungkan, Ahok sebagai Gubernur menerima aduan warga tiap hari. Prinsip melayani warga dengan hati bukanlah omong kosong. Melayani warga dengan hati telah menjadi jiwa Basuki.
Pasukan warna-warni (kuning, oranye, hitam) dibentuk untuk memastikan warga Jakarta menerima pelayanan dan hasil kerja terbaik. Sungai yang kotor dibersihkan. Selokan dan got dipastikan mengalirkan air dan bukan sebagai tempat sampah. Jadilah titik genangan air pun berkurang banyak di wilayah Jakarta.
Ketika kota-kota lain di luar Jakarta bergulat dengan banjir, Jakarta tampil sebagai kota yang tidak terlalu disukai genangan air. Perubahan penanggulangan banjir jelas nyata. 600 kata rasanya masih kurang untuk melukiskan betapa gigihnya Ahok-Djarot mengemban amanat untuk memastikan keadilan dan kesejahteraan bagi warga Jakarta.
Prestasi yang mencengangkan tentu saja. Sayang, angka kepuasan warga 70% malah difentung pakai kapak Naga Geni 212 yang berhasil memenangkan Anies-Sandi.
Walau Ahok-Djarot kalah bukan berarti kehilangan masa depan cerah. Keceriaan dan hati berbunga malah menghinggapi Balai Kota Jakarta. Tanpa terduga-duga, halaman Balai Kota dan sekitarnya berubah menjadi samudera raya bunga tanda cinta dan ucapan penuh simpati pada kinerja Ahok-Djarot. Kemenangan manis Anies pun menjadi kehilangan gairah.
Tak kalah mengharukan adalah ketika Ahok diputus bersalah atas tuduhan penodaan agama. Lilin namaskara pun menyala di mana-mana sebagai tanda bela rasa kepada Tjahaja Purnama yang dipenjara. Api kebangkitan nasional seolah dipantik lagi. Mayoritas hening pun disadarkan. Tidak boleh kalau hanya berdiam diri. Tak rela bila Ibu Pertiwi yang memangku Pancasila dihina-hina oleh ormas radikal bebas tanpa anti oksidan.
Sosok Ahok yang tergambar di atas, bagi saya tetap yang paling menohok sebagai Cawapres Jokowi. Dengan catatan, Indonesia mau menjadi negara dengan birokrasi yang berhati melayani. Birokrasi yang sungguh melayani publik dan bukan birokrasi yang mabok korupsi sapi.
sumber berita : seword.com
Demikianlah Artikel Sosok Ahok Sejatinya Paling Menohok sebagai Cawapres Jokowi
Sekianlah artikel Sosok Ahok Sejatinya Paling Menohok sebagai Cawapres Jokowi kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Sosok Ahok Sejatinya Paling Menohok sebagai Cawapres Jokowi dengan alamat link https://mbahsydney.blogspot.com/2018/03/sosok-ahok-sejatinya-paling-menohok.html
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments